sedikit tentang keadaan indonesia pada masa kolonial belanda – tugas sejarah

  1. 1.       Jelaskan pengaruh kolonialdalam kehidupan masyarakat Indonesia dalam bidang
    1. a.      Politik

Sebelum tahun 1900, tepatnya sebelum politik etis, sistem pemerintahan Belanda masih bersifat sentralisasi, yaitu sistem pemerintahan yang memusat. Semua kendali berada di tangan Belanda. Sistem ini adalah sistem yang paling menguntungkan Belanda dan membuat Belanda tidak kehilangan tanah jajahannya.

Pada tahun 1903, sentralisasi pada bidang keuangan terjadi, kemuduan pada tahun 1922, baru ada pemerintahan daerah baru. Berdasarkan undang-undang perubahan 1922 ini, Hindia Belanda terbagi menjadi Province :  memilik otonomi dan dikepalai oleh gubernur {Jawa Barat (1926),Jawa Timur (1929), dan Jawa Tengah(1930)}; dan Gewest: tidak memiliki otonomi .pada tahun 1938, Hindia Belanda memiliki 8 Gewest yang terbagi menjadi  3 Provinsi dan 5 Gewesten:  3 Provinsi    : Jawa Barat,Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

5 Gewesten       : Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Gewest Sumatera, Gewest Kalimantan (Borneo), Gewest Timur Besar (Grote Oost) yang terdiri dari Sulawesi, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan Irian Barat.

Untuk Surakarta dan Yogyakarta termasuk Gubernemen yaitu wilayah yang langsung diperintah oleh pejabat-pejabat gubernemen.

Setelah tahun 1900, sistem pemerintahan Belanda berubah menjadi desentralisasi, yaitu sistem yang melakukan pembagian wewenangdalam urusan penyelenggaraan pemerintahan, karena Belanda membutuhkan ahli-ahli dan tenaga pribumi terlatih untuk pembangunan pada masa itu. Sehingga munculah lembaga-lembaga pendidikan seperti Sekolah Rakyat (SR).

Keinginan desentralisasi ini menyebabkan adanya desentralisasi antara kubu Negara induk (Belanda) degan Hindia-Belanda, antara pemerintah Batavia dengan daerah, dan antara Belanda dengan penduduk pribumi.

Keinginan desantralisasi ini juga mengakibatkan:

  1.  wilayah Indonesia membutuhkan daerah otonom.
  2. Kebasan dari pihak koloni semakin besar
  3. Munculnya sistem kepengurusan yang Indonesiani (sistem kepengurusan Indonesia, sejauh mungkin dilakusanakan oleh orang Indonesia) yang kemudian melahirkan Volksraad (Dewan Rakyat)
  1. b.      Ekonomi
  2. Komersialisme dan Industrialisasi.

Komersialisme yang terjadi di Indonesia awalnya disebabkan karena Kemerosotan VOC, kekosongan kas negara Belanda serta hutang yang sangat besar dengan saldo kerugian sebesar 134,7 juta Gulden. Untuk mengatasi masalah tersebut maka diberlakukanlah tanam paksa dibawah pimpinan Van den Bosh pada 1830-1870.

Ketika tanam paksa berlangsung, pribumi  seperti tidak memiliki tanah pribadi, karena 4/5 bagian tanahnya dikuasai oleh Belanda. Hampir seluruh waktu yang pribumi miliki digunakan untuk menanam kopi, gula, teh, dan tembakau yang memang laris dijual di Eropa. Pemerintah Belanda membeli hasil kebun tersebut dengan harga yang sangat murah, kemudian menjualnya di pasar Eropa denga harga yang jauh mahal, dan keuntungan penjualan tersebut dimiliki oleh Belanda seutuhnya.

Tanam paksa mengakibatkan eksploitasi tanah bagi pribumi, selain itu kerja rodi membuat rakyat miskin; bodoh; dan daya tahan tubuh yang lemah, sehingga pada saat bencana kelaparan terjadi, banyak pribumi yang mati.

  1. Masa Liberalisme (1870-1900)

Penghapusan tanam paksa membuat sie=stem perekonomian menjadi liberal. Banyak modal diberikan untuk pembangunan di Indonesia. Pada masa itu, komersialisme di Indonesia tampak dengan:

  1. Indonesia menjadi tempat mencari barangmentah
  2. Indonesia menjadi tempat menanam modal bagi pengusaha swasta asing.
  3. Indonesia menjadi tempat pemasaran barang-barang Industri Eropa.

Pada masa inilah kemudian Indonesia mengenal Industrialisasi yang ditandai dengan:

  1. Dikeluarkannya undang-undang agrarian (1870)  tentang dibolehkannya pemberian modal asing untuk Indonesia.
  2. Landrent. 25 tahun untuk tanah pertanian, 75 tahun untuk ladang.
  3. Tanah yang disewa dijadikan kebun yang memiliki pabrik pengolahnya sendiri.
  4. Perkembangan industri perkebunan disusul oleh industri-industri lain seperti mesin, tambang, dll
  1. c.       Pendidikan

Pengaruh dalam bidang pendidikan ini berkaitan erat dengan mobilitas social yang terjadi di masyarakat. Penduduk yang awalnya berprofesi sebagai petani beralih profesi menjadi buruh. Mereka meninggalkan desanya menuju kota-kota industri.

Munculnya ‘kota-kota baru’ mendukung munculnya aktivitas-aktivitas baru pula, sehingga dibutuhkannya sarana dan prasarana baru, tak luput pula sumber daya manusia yang berkualitas. Hal ini yang membuat rakyat Indonesia berkeinginan untuk bekerja dan mengenyam bangku pendidikan di kota. Banyaknya orang-orang yang mengenyam pendidikan, membuat munculnya kaum-kaum cendekiawan yang bekerja pada kantor-kantor milik pemerintah yang berada di kota. Kemudian orang-orang desa meninggalkan rumahnya dan berpindah ke kota untuk menjadi ‘pejabat kota’.

Berkembangnya pendidikan di Indonesia menyebabkan keadaan kaum perempuan juga berubah. Masuknya budaya barat dengan kemodernisasiannya mampu membukakan pikiran bagi kaum wanita Indonesia yang dipelopori oleh R.A Kartini (21 April 1879-13 September 1904). Ia sadar bahwa perempuan pribumi terlalu terikat dengan tradisi dan adat istiadat. Perempuan selalu terbelakang dan terlalu berpandangan sempit. Kartini ingin menampilkan sebuah perubahan bagi kaum perempuan Indonesia. Karena pergaulannya ketika sekolah di E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar dan ilmu yang dia peroleh selama sekolah maka Kartini berkeinginan untuk mengangkat kedudukan kaumnya. Ia mulai mendirikan sekolah khusus perempuan di kota Jepara dan di Rembang (tempat tinggal suaminya, Raden Adipati Joyodiningrat). Kartini sendiri yang menjadi guru disekolah tersebut. Apa yang dilakukan Kartini tersebut akhirnya diikuti oleh teman-temannya yang mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Perkembangan pendidikan untuk kaum wanita semakin berkembang dengan diberlakukannya Politik Etis oleh pemerintah Belanda (1900-1922).

  1. d.      Sosial

Pada masa colonial penggolongan masyarakat didasarkan pada perbedaan ras:

  1. Golongan Eropa

Terdiri dari orang Belanda, Inggris, Amerika, Belgia, Swiss, dan Perancis.

Golongan Eropa merupakan golongan pendatang yang sangat minoritas. Mereka memiliki kekuasaan yang besar di Indonesia. Status sosial mereka lebih tinggi dibandingkan dengan golongan-golongan lain yang ada. Mereka adalah para pemilik modal yang menanamkan modalnya di perusahaan perkebunan Indonesia.

Perkawinan antara orang Eropa orang Indonesia disebut golongan Indo-Eropa.

  1. Golongan Asia dan Timar Asing

Terdiri dari bangsa Cina, India, dan Arab.

Mereka memiliki kedudukan sosial yang lebih tinggi dan istimewa daripada kaum pribumi. Status ekonomi merekapun tinggi sehingga membuat pemerintah Belanda memberikan banyak kemudahan bagi golongan tersebut dalam sektor perdagangan. Sebagai pedagang, mereka menguasai perdagangan eceran, tekstil, dan mesin elektronik. Perkawinan antara kaum Timur Asing dengan orang Indonesia disebut golongan Indo Timur Asing/ Peranakan.

  1. Golongan Pibumi

Golongan Pribumi merupakan kelompok mayoritas dan merupakan pemilik negeri ini. Mereka merupakan penduduk asli Indonesia. Tetapi merupakan orang yang tertindas dan terjajah. Kedudukannya adalah yang paling rendah (lapisan terbawah) dan dibebankan banyak kewajiban tetapi hanya kurang diperhatikan.

  1. 2.       Faktor yang mendorong pergerakan wanita

Sebelum tahun 1900, banyak pergerakan wanita berdiri dengan tujuan meningkatkan keterampilan kaum wanita.

Perkumpulan-perkumpulan kaum ibu didirikan untuk memajukan kecakapan kaum wanita yang bersifat khusus seperti memasak, menjahit, mengasuh anak, merenda, dan lain sebagainya.

Persamaan derajat antara pria dengan wanita, sehingga wanita tidak lagi diperlakukan seperti pekerja, selain itu untuk penghapusan poligami.

Keutamaan Istri Minangkabau dan Kerajinan Amal Setia berusaha memajukan sekolah bagi anak-anak perempuan.

Pada tahun 1920 mulai muncul pergerakan wanita yang bersifat kegiatan social dan kmasyarakatan yang lbih luas dari sebelumnya.

Pada 1920, corak kebangsaan sudah mulai masuk dan besar pengaruhnya dalam pergerakan wanita.

Kongres Perempuan 1 diadakan untuk mempersatuka cita-cita dan usaha untuk memajukan wanita Indonesia serta mengadakan gabungan atau perikatan dii antara perkumpulan wanita.

  1. 3.       Gerakan keagamaan pada masa colonial
  2. Sarekat Islam

Didirikan di Solo, 1911, dipimpin H. Samanhudi. Awalnya bernama Sarekat Dagang Islam (1909) oleh RM. Tirtoadisuryo dan beranggotakan pedagang-pedagang Islam.

HOS Cokroaminoto mengubah SDI menjadi SI, sehingga anggotanya tidak hanya pedagang islam namun juga seluruh umat Islam.

Tujuan SI adalah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan jiwa dagang.
  2. Membantu anggota-anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha.
  3. Memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat.
  4. Memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam.
  5. Hidup menurut perintah agama

Pada 1914, H. J. F. M. Sneevliet mendirikan organisasi ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging), yang kemudian berhasil menyusup ke dalam tubuh SI oleh karena dengan tujuan yang sama yaitu membela rakyat kecil dan menentang kapitalisme namun dengan cara yang berbeda dengan menggunakan taktik infiltrasi yang dikenal sebagai “Blok di dalam”.

SI berpengaruh di masyarakat dan pemerintah (Belanda), sehingga pihak Belanda sangat memperhatikan gerak-gerik SI.

1917, SI mulai mengambil sikap anti-pemerintah.

Pemberontakan di Toli-toli (Sulawesi Selatan), pemberontakan ini dihubungkan dengan kedatangan Abdul Muis ke Sulawesi Selatan, yang kebetulan ada keperluan dengan partainya, sehingga ia dituduh terlibat dalam pemberontakan itu.

Pemberontakan di Cimareme (Jawa Barat), pemberontakan ini terjadi karena adanya protes kaum petani yang menolak menyerahkan padinya kepada pemerintah Belanda dengan harga yang telah ditetapkan.

  1. Muhammadiyah

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Namun pada umumnya, organisasi ini bergerak di bidang social dan pendidikan.

Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H).

Pada 1917, kegiatan Muhammadiyah masih terbatas di sekitar kampung Kauman.

Pada masa kepemimpinan Ahmad Dahlan (1912-1923), pengaruh Muhammadiyah terbatas di karesidenan-karesidenan seperti: Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan, daerah Pekalongan sekarang. Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar keseluruh Indonesia.

Pada 1920-1925 Muhammadiyah giat mendirikan sekolah-sekolah, karena pendidikan dan pengajaran mendapatkan tempat yang istimewa di Muhammadiyah.

Pada tahun 1970, komite-komite pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan kesejahteraan berpindah ke kantor di ibukota Jakarta.

Sharoncitara Hening Pramesti

SMAN 3 Padmanaba Yogyakarta/XI-IPS/16

3 thoughts on “sedikit tentang keadaan indonesia pada masa kolonial belanda – tugas sejarah

Write Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s